Bismillahirrahmanirrahim...
Pagi itu cukup cerah
Pagi itu hari Jumat,
dan Pagi itu pula kabar itu datang..
Sesosok manusia, tak lagi banyak kata, amanah, lagi ramah
Sesosok sahabat, bagi mereka yang merasakan ketulusannya
Sesosok muslimah, dengan segala amalan-amalan yang bisa membuat iri sekitarnya
Sesosok mujahidah, yang dipanggil sang kuasa, manakala ilmu dituntutnya
Ya, Siapa yang tak kan terpacu jantungnya ketika mendengar kabar itu..
Belum lagi 20 usianya, begitu banyak kenangan manis nan indah menempel kuat di hati dan ingatan orang-orang sekitarnya. Padahal, ialah sosok yang tak banyak bicara. Ia sosok yang menampakkan kerja lebih banyak dari katanya.
Kagum, sekaligus merenung kembali pada diri ini.
Seperti apakah kelak kenangan yang membekas di hati mereka yang mengenalku?
Akankah kebaikan-kebaikanku? Amalan-amalanku?
Ataukah, segala kebencian, sifat buruk, rasa sakit hati, dan hal-hal yang membuat Allah murka?
Membandingkan diri ini dengannya, jauh.. sunggu teramat jauh jarak perbedaan di antara kami.
Ia yang lebih muda dariku, justru membuatku belajar siapa sebenarnya kita di dunia.
Mengingatkanku, betapa Allah punya kehendak yang takkan pernah kita sangka. Dan bahwa tugas kita adalah menambah tabungan amalan sebanyak-banyak sebagai bekal.
Iri,
Ya jujur aku merasa iri padanya. Iri dengan betapa tenang keluarganya melepas kepergiannya. Iri dengan betapa baiknya kenangan orang-orang tentangnya. Iri dengan segala amalan-amalannya. Iri dengan banyaknya hafalan qur'annya. Iri dengan perhatian-perhatiannya pada saudarinya. Iri dengan semangatnya mewakfkan diri untuk berdakwah. Sungguh, aku iri.
Rifdah Izzatunnisa
Sebuah nama yang tepat baginya.
Perempuan yang memiliki kemulian dan pemberi pertolongan
Selamat jalan saudariku..
Semoga engkau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya..
Amin...
Bogor, 30 Maret 2012